Langsung ke konten utama

Dialog cerita Karna Tanding



KARNA TANDING
            Sepeninggal Resi Bhisma dan Pendhita Durna, Prabu Duryudhana merasa tidak mempunyai lagi senopati yang bisa diandalkan. Duryudhana memilih Karna sebagai senopati perang melawan Pandhawa. Perang disebut Bharatayuda yang dilaksanakan di Tegal Kurusetra.
            Sebelum perang Karna menyempatkan diri berpamitan dan meminta restu kepada Kunthi, Ibunya. Namun Kunthi tak mengijinkannya. Pada saat perang, Karna menaiki kereta yang dikusiri oleh Prabu Salya, yaitu mertuanya sendiri, karena Karna menikahi anaknya bernama Dewi Surikanti. Sedangkan Arjuna juga menaiki kereta yang dikusiri oleh Kresna.

Surikanti          : “Aku akan masuk dan terjun ke dalam api yang membara itu. Aku akan membuktikan kesetian ku pada suami ku”
Kresna             : “Apakah kau tak ingat, sebelum Karna gugur di medan perang ada kejadian apa?”
Surikanti          : (Pandangan semu dan mengingat – ingat)

BAGIAN I (Ruang tengah kerajaan)
Karna              : “Prabu Duryudana sudah memilihku sebagai senopati perang di Tegal Kurusetra. Aku tak akan mengecewakannya dan akan memenangkan perang suci itu” (Di sudut ruangan)
Salya               : “Kau tak usah sombong Karna. Sebenarnya aku yang harusnya di posisi itu. Begini – begini aku adalah mertua mu. Setidaknya kau harus tetap menghormati ku. Tapi apalah daya ku yang sudah disuruh Prabu untuk mengkusiri mu” (Masuk menghampiri Karna)
Karna              : “Perkataan Prabu adalah perintah bagi kita sebagai orang kepercayaannya”
Salya               : “Iya memang, tapi aku tetap sejujurnya iri dengan mu. Tak usah sombong Karna”
Karna              : “Aku akan menemui Ibu Kunthi dan meminta restu untuk perang” (meninggalkan ruangan)

BAGIAN II (Kamar Kunthi)
Karna              : “Salam… Ibu, aku ingin meminta restu kepada mu untuk perang besok”
Kunthi             : “Salam…Tidak anak ku, aku tak mengijinkan mu, bukankah kau sudah tau, bahwa Pandhawa adalah adik mu sendiri? Bergabunglah dengan Pandhawa, maka kau tak akan mati”
Karna              : “Sudah terlambat ibu. Aku sudah diurus, dididik oleh keluarga Kurawa selama ini. Ini adalah balas budi ku kepada mereka. Akan ada pilihan yang harus mati aku atau Arjuna”
Kunthi             : (Menangis) “Aku tetap tak mengijinkan mu”
Karna              : “Maafkan aku ibu, aku begini untuk mempertahankan agar adik ku Pandhawa tetap utuh 5. Mungkin dengan cara ini angkara murka akan lenyap dari muka bumi ini” (Meninggalkan ruangan menuju kamarnya)
Kunthi             : “Doa ku akan selalu menyertai mu. Salam…” (Memegang pundak Karna)
Karna              : “Salam…” (Meninggalkan ruangan)

BAGIAN III (Kamar Surikanti)
Surikanti          : “Ada apa dengan perasaan ku bibi? Sejak suami ku di panggil Prabu Duryudana perasaan ku menjadi gelisah” (Cemas dan mengkhawatirkan suaminya)
Dayang            : “Tenang saja Dhara, Prabu Duryundana tak akan menyakiti Adipati Karna. Saya yakin Dhara Adipati Karna adalah orang yang cerdik”
Surikanti          : “Iya memang bibi, tapi perasaan ini tetap gelisah memikirkannya”
Dayang            : “Ini Dhara tehnya, semoga dengan minum sesuatu yang hangat akan mengurangi rasa gelisah Dhara” (Memberikan teh hangat)
Surikanti          : (Menerima teh) Terima kasih bibi, semoga suami ku tak apa – apa”
Dayang            : “Dhara… sebenarnya Adipati Karna dipilih menjadi senopati perang nanti. Apalagi melawan Pandhawa, mereka terkenal mempunyai prajurit yang sangat kuat”
Surikanti          : “Apa benar yang kau katakan? Suami ku menjadi senopati perang. Namun, suami ku belum mengatakan dan meminta restu ku”
Dayang            : “Benar Dhara. Saya dengar sendiri pembicaraan Adipati Karna dengan Prabu Duryudhana”
Surikanti          : “Mengapa suami ku berbohong pada ku, apakah semata – mata agar aku tak mencemaskannya?”
Karna              : “Surikanti. Bisakah kau tinggalkan kami berdua bibi?” (Masuk ke kamar)
Dayang            : “Baik Prabu, permisi” (Meninggalkan kamar)
Surikanti          : “Terima kasih bibi”
Dayang            : (Membungkuk menghormati)
Surikanti          : “Suami ku, kudengar dari Bibi kau akan menjadi senopati perang melawan Pandhawa” (Sedih)
Karna              : “Iya istriku, maaf untuk kesekian kalinya aku meninggalkan mu. Ini tugas dari Negara, ku harap kau mengerti”
Surikanti          : “Memang aku harus mengijinkannya, namun di lubuk hati yang paling dalam aku tetap tidak rela. Aku merasa was – was ketika kau berangkat perang” (Khawatir)
Karna              : “Tenanglah istri ku, aku akan menjaga tubuh ini demi kau. Doakan saja perang kali ini kita menang dan tak banyak kehilangan pasukan” (Memegang pundak dan menenangkan istrinya)
Surikanti          : “Baiklah, aku percaya dengan mu. Ku doakan peperangan mu. Salam…”
Karna              : “Terima Kasih istri ku” (Menjaba tangan istrinya)

BAGIAN IV (Tegal Kurusetra)
            Matahari bersinar, sangkakala dibunyikan. Pasukan siap menyerang musuh. Arjuna dan Karna bersama – sama menuju Tegal Kurusetra.
Karna              : “Akhirnya, aku sampai di Tegal Kurusetra!!” (Mengangkat panah)
Kresna             : “Arjuna, sepertinya pasukan Astina sudah siap dengan perang suci ini”
Arjuna             : “Aku sudah siap melawan mereka, ini pasukan ku” (Mengangkat panah)
Kresna             : “Baiklah, kita tunggu pasukan Astina menyerang dulu”
Arjuna             : “Aku yakin, kebenaran pasti akan menang. Dan Angkara murka pasti akan musnah”
Salya               : “Maaf prabu, kereta kita terperosok ke dalam tanah, cukup dalam dan tidak bisa berjalan”
Karna              : “Apakah kau sengaja melakukan ini, ini sudah panah sakti ku terakhir” (Turun dari kereta)
Salya               : “Maaf prabu, maaf” (Bersujud)
Arjuna             : (Memanah Karna yang terkena mahkotanya)
            Mereka berdua saling menyerang, hingga akhirnya Arjuna berhasil memanah tepat di dada Karna. Karna rebah dan bersimbah darah. Karna gugur di medan perang Kurusetra.
Karna              : “Arjuna” (Suara lemah dan pelan)
Arjuna             : (Mendekat)
Kresna             : “Jangan Arjuna, Karna sudah mati. Kita menang” (Melarang dan menarik Arjuna mendekat kepada Karna)
            Keluarlah Burung raksasa yang keluar dari tubuh Karna, itu adalah pusaka Karna yang ingin menyerang Arjuna.
Arjuna             : “Aggghhh…….” (Memanah burung itu dengan panah pasopati)
Karna              : (Pusaka burung itu hancur menjadi debu)
Sementara itu,  Surikanti khawatir karena menunggu suaminya tak pulang – pulang. Akhirnya Surikanti menyusul ke Kurusetra.
Surikanti          : “Mana… mana suami ku?? Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya” (Bingung)
Arjuna             : “Salam… Maaf Surikanti, suami mu Karna telah gugur di perang suci ini” (Menunjuk ke arah Kresna)
Surikanti          : (Menangis) “Suami ku, Prabu Karna”
Kresna             : “Suami mu gugur, Surikanti” (Merawat dan menyiapkan upacara ngaben jasad Karna)
                        Harum semerbak saat upacara ngaben Karna.
Surikanti          : (Terjun ke dalam api yang sedang berkobar)
Kresna             : “Arjuna, sebenarnya apakah kau ingin bersatu dengan kakak mu, Karna ?”

SELESAI
Dewi Kunthi               :
Adipati Karna             :
Salya                           :
Dewi Surikanti            :
Arjuna                         :
Kresna                         :
Dayang                        :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Cerita Asal Usul Aksara Jawa

ASAL – USUL AKSARA JAWA Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang laki – laki yang berwibawa, sakti nan gagah berani. Ia tinggal di sebuah desa yang gemahripah lohjinawi yaitu Medhang Kawit. Ia mempunyai 2 orang abdi sakti yang sangat setia bersamanya bernama Dora dan Sembada. Panggil saja ia dengan Aji Saka.             Aji Saka mempunyai sorban dan keris. Yang keduanya adalah pusaka yang sangat sakti hingga tidak ada yang bisa menandinginya. Sorbannya bisa melebar seluas samudra, dan kerisnya bisa membelah jagat raya.             Ketika Aji Saka hendak mengembara, ia menitipkan kerisnya kepada Sembada. Kemudian ia berangkat mengembara ditemani oleh Dora. Diperjalanan mereka bertemu dengan pedagang yang sedang dirampok. Ternyata pedagang tersebut akan menjadi santapan seorang raja yang sangat kejam, bernama Dewata Cengkar. Singkat cerita, Dora diperintahkan Aji Sa...

Pengertian,ciri-ciri, struktur, reproduksi, klasifikasi, jenis-jenis bakteri

Pengertian Bakteri Bakteri dilihat dengan mikroskop elektron Bakteri berasal dari bahasa Latin bacterium; jamak: bacteria adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik). Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit untuk dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 (setelah ditemukannya mikroskop), ilmu tentang mikroorganisme terutama bakteri (bakteriologi) mulai berkembang. Ciri Ciri Morfologi Bakteri Morfologi bakteri sangat sederhana, sehingga sangat tidak mungkin hanya menggunakan morfologi sel untuk informasi taksonomi. Namun demikian morfologi tetap bernilai dalam taksonomi. Morfologi bakteri yang dipertimbangkan adalah : A. Bentuk sel bakteri Pada umumnya bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar (berdasarkan bentuknya) yaitu: 1. Kokus (Coccus) adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai be...

Laporan Percobaan elektrolisis dan penyepuhan KIMIA

PERCOBAAN ELEKTROLISIS 1.       Tujuan : Mengamati peristiwa yang terjadi pada reaksi elektrolisis 2.       Alat dan Bahan 1.       2 Elektroda karbo n 2.       Kabel 1 m 3.       4 Baterai 1,5 volt 4.       Gelas Kimia 5.       Tabung U 6.       Amilum (C 6 H 10 H 5 ) 7.       2 Paku (baru, belum berkarat)                              8.       Larutan KI 9.       Pipet tetes 10.   Larutan fenolftalein 11.   Statif 12.   Corong kaca 13.   Kertas lakmus merah 14.   Solasi 3.       Cara...